
Pagi itu, aku mendapati diriku duduk di sebuah yayasan seni; membaca sebuah daftar yang menuliskan namaku dalam daftar yang sama dengan nama-nama besar seniman yang selama ini kukagumi dari jauh.
Saat itu aku tersadar, aku baru saja melangkah melebihi jalur yang pernah aku bayangkan. Aku mengetuk sebuah pintu menuju dunia yang sebelumnya hanya kunikmati halaman suburnya. Seseorang membuka pintu gerbangnya dan aku melangkah masuk.
Selangkah dan terkesima. Dua langkah dan aku sedikit takut. Tiga langkah dan aku mulai menikmatinya. Aku mulai berlari kegirangan memutari halamannya, menikmatinya, lalu aku berhenti tepat di pintu masuk rumah itu. Rumah yang selama ini bahkan tidak bisa aku bayangkan isinya. Aku menanti dipersilakan masuk- atau mungkin, dipersilakan pergi dan kembali menikmatinya dari luar.
*****
Beberapa minggu sebelumnya, seseorang menyodorkan informasi mengenai sebuah peluang kerja berbasis seni di Yayasan Bagong Kussudiardja. “Mungkin kamu tertarik, coba aja”, katanya.
Ya, aku tertarik.
Saat itu aku baru menyadari bahwa hari terakhir pendaftaran hampir lewat. Aku bergegas mengisi formulir dan mengirimkannya. Saat itu nyaliku sempat menciut- dalam deskripsi diri, pilihannya adalah seniman, pekerja seni, individu yang memiliki pengetahuan serta kepedulian terhadap seni, dan lainnya.
Aku adalah lainnya.
*****
Aku menikmati seni. Aku suka membaca mengenai seni. Aku suka mempelajarinya, berbincang mengenainya, terkadang menuliskannya. Aku berusaha hadir dalam acara-acara yang menurutku menarik, terkadang pulang dengan puas- terkadang kecewa. Tapi dalam daftar itu, aku adalah lainnya.
Karena itu aku sangat heran dan sontak berteriak kegirangan ketika mendapat pemberitahuan bahwa aku lolos seleksi pertama dan bisa mengikuti workshop seleksi pra program selama empat hari.
Aku membayangkan sebuah fun camp bersama para seniman yang selama ini kukagumi. Rasanya tidak sabar untuk segera ada di sana. Selebihnya, otakku terdistorsi. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan mereka lakukan pada kami. Apakah kami akan dites kemampuan seninya. Apakah kami akan diajari mengenai seni. Apakah kegiatannya berupa outbound. Atau apa. Yang aku tahu, aku sangat bersemangat!
*****
Beberapa hari sebelumnya, aku mulai kembali membekali diri dengan hal-hal yang menurutku perlu. Aku kembali memainkan piano yang setahun belakangan ini kubiarkan terlantar setelah bertahun-tahun mewarnai hidupku. Aku kembali mengingat-ingat pelajaran karawitan yang dulu pernah aku pelajari.
Aku menambah tumpukan buku bacaan dengan Cikar Bobrok-nya Sindhunata; I Put a Spell on You- autobiography of Nina Simone; Music- an appreciation; Music- the art of listening; dan Popular Music and Communication.
Awalnya, aku melakukan semua itu atas nama rasa percaya diri. Aku takut menjadi seorang ‘lainnya’ yang payah. Seiring waktu, sesuatu mulai tumbuh lagi. Aku melahap informasi di buku-buku itu dengan lapar. Aku kembali menyukai dunia itu. Aku kembali penasaran dan aku mulai menambah resensi musikku- meminjam beberapa CD di LIP dengan aliran musik yang beragam.
Aku tetaplah seorang ‘lainnya’. Bermain musik, pentas, mengikuti festival-festival dan memenangkannya, mengetahui sedikit, dan menikmati seni tidak akan membuatku menjadi seorang seniman. Seniman itu lebih dari sekedar itu semua.
*****
Selama empat hari, aku memasuki sebuah dunia yang pernah aku tinggalkan dan kembali menemui mimpi yang telah lama terkubur. Bercakap-cakap dekat dengan mereka yang selama ini kukagumi, justru membuatku melangkah semakin masuk ke dunia lama itu. Aku semakin mengagumi mereka, aku mulai mengintip melalui jendelanya.
Aku ingin berada di rumah itu, duduk bersama sembari menikmati secangkir teh hangat. Kalaupun aku tidak bisa memasuki rumah itu, setidaknya aku bisa menikmati halamannya. Sesekali kita selalu bisa berharap bahwa sang pemilik rumah akan keluar dan bersedia berpiknik di halaman indahnya, bukan?!