..another hideaway..

Blog EntryMilky Moo dan Libur..Jul 3, '08 12:09 AM
for everyone

Judulnya panjangnya: Libur Menulis Blog.. :D

Melihat banyaknya judul yang masih tersimpan dengan rapi di dalam "Judul-judul yang menanti untuk ditulis", tahu-tahu aku kehilangan minat menulis.

Terlebih lagi ketika melihat tumpukan daftar yang harus dilakukan untuk skripsi, review kursus basa perancis, dan Milky Moo!

Milky Moo?

Yup!


Milky Moo adalah toko susu aneka rasa yang aku buat di Kaliurang. Awalnya ini proyek dolanannya aku dan adik-adik mumpung baru liburan. Eh, dapat tanggapan positif dari mama.. jadilah: Milky Moo!


Maskot Milky Moo adalah Nenek Sapi yang gambarnya ada di awal posting tadi. Milky Moo buka tiap Sabtu mulai jam 3 sore dan Minggu pagi jam 7 sampai jam 5 sore.

Susunya murni, segar, kental, dan hadir dalam berbagai rasa. Beli 3 gratis 1 selama masa soft opening sebulan ke depan!

Dateng yaaa...

 



Blog EntryKisah Si Amel (yang kucing)Jun 15, '08 10:52 AM
for everyone

Apakah gumpalan bulu gendut berwarna coklat ini?

.....

Meet Caramel, my cat.

 

Ada yang bilang nama lengkap Caramel itu Caramel Latte; tapi ada yang memilih menamainya Crème Caramel, dan ada juga yang bilang dia itu Caramel Macchiato.

 

Sedangkan untuk nama panggilannya, sepertinya semua sepakat memanggilnya Amel (dan Amel adalah nama seorang teman dekatku.. hihihi)

 

*****

We were destined for each other..

 

Aku dan keluargaku sedang makan malam di Sogan Village ketika pertama kali aku melihat Caramel. Aku pikir dia ini patung. Saat itu Caramel duduk dengan sangat tenang dan cantik- seperti pajangan.

 

Lama-lama adik sepupuku penasaran- apa iya itu patung?

 

Lalu kami mulai memperhatikannya lebih jeli- yap, dia bergerak! Bukan patung! Itu kucing Persia!

 

Adik sepupuku bergegas mendatanginya segera setelah memesan makan malam. Caramel yang genit. Caramel yang awalnya jual mahal tapi lalu mulai mengikuti adik sepupuku ketika adikku bosan- hmm.. dia bersikap layaknya kucing sejati.

 

Caramel menanti kami makan dari kejauhan- sepertinya dia dilatih untuk tidak masuk ke area restoran. Beberapa menit kemudian dia bosan menunggu- lalu mulai pergi dan tidak terlihat lagi.

 

Setelah selesai makan, aku melihat siluet kucing-kucing berbulu panjang di kejauhan. Ternyata ada banyak kucing yang mirip Caramel di sana. Bahkan ada satu yang terlihat begitu anggun dan berwarna putih.

 

Lalu aku iseng-iseng memulai percakapan dengan waiter-nya..

 

“Lho, mas.. itu kucing lucu-lucunya ada banyak ya?”

“Iya, mbak.. Dulu itu dipiara orang tapi terus ditinggal pergi”

“Wah, mbok aku bawa pulang aja, mas..”

“Silahkan aja kalau bisa nangkepnya, mbak..”

“Hah? Serius, mas?”

“Iya, mbak.. bawa aja..”

 

So be it..

 

*****

 

Di rumah, kami kena demam kucing baru! Semua sayang Caramel..

 

Awalnya aku berniat menamainya Cinnamon- tapi lalu adik sepupuku merasa bahwa Cinnamon itu pahit, padahal kucing ini begitu manis.. Akhirnya kami sepakat memanggilnya Caramel.. Caramel Latte, Crème Caramel, Caramel Macchiato.. Yumm..yumm..how sweet!

 

Hari berikutnya aku berbelanja keperluan pemeliharaan kucing. Ada pasir, tempat makan, kalung anti kutu, cologne aroma buah, rantai untuk jalan-jalan yang trendi, dan keperluan lain. Saat itu aku diminta untuk berjanji tidak akan menerlantarkan Shadow- anjingku yang lucu. Akhirnya aku mulai membuat jadwal jalan-jalan dengan Caramel dan jadwal grooming plus bermain-main dengan Shadow.

 

I’m a cat and dog person. In fact, I’m into cat, dog, rabbit, hamster, turtle, hedgehog, chinchilla, you name it!

 

*****

Walaupun dari belakang dan dari kejauhan dia terlihat seperti kucing Persia, tapi ternyata hidungnya tidak pesek.. dia memang jenis yang semi-long hair, tapi entah tepatnya jenis kucing apa. Terkadang dia terlihat sedikit canggung dengan bulu yang berdiri dan panjang-panjang.. seperti kucing yang kaget, takut, dan kesetrum!

Tapi lalu dia terlihat seperti Cheshire Puss tanpa cengiran dan aku membayangkan diri menjadi Alice yang kebingungan dan menanyakan arah padanya.. oh, that’s my favorite part of the book! :

(`Cheshire Puss,' she began, rather timidly, as she did not at all know whether it would like the name: however, it only grinned a little wider. `Come, it's pleased so far,' thought Alice, and she went on. `Would you tell me, please, which way I ought to go from here?'


`That depends a good deal on where you want to get to,' said the Cat.

`I don't much care where--' said
Alice.

`Then it doesn't matter which way you go,' said the Cat.

`--so long as I get SOMEWHERE,'
Alice added as an explanation.

`Oh, you're sure to do that,' said the Cat, `if you only walk long enough.')


*****

 

Di rumah, semua sayang Caramel. Caramel sayang semua.. selama dua hari!

 

Mama langsung meminta Caramel dipindah di rumah adik sepupuku ketika beliau menyadari bahwa nafasku mulai tersengal-sengal. Sekeras apapun aku berusaha tidak terlihat sesak, mama tetap menyadari bahwa berada di dekat kucing berbulu sebanyak Caramel selama 10 menit pun akan membuatku sakit.

 

Caramel pun hidup bahagia di sebelah rumah, dimanja seperti bayi, diberi banyak makanan enak, diajak bermain-main, disisiri bulunya.. selama seminggu!

 

Lalu tanteku mulai marah-marah ketika Caramel mulai nakal, pup di sembarang tempat, dan nafas adik sepupuku juga mulai berbunyi. Caramel pun dipindah ke Joglo untuk dijadikan tanggungjawab tambahan pengurusnya Shadow..

 

*****

 

Beberapa hari kemudian, adik mama yang sangat menyukai kucing minta Caramel dipindah ke rumahnya saja supaya bisa dikawinkan dengan kucing anggoranya. Kami langsung setuju. Caramel pasti lebih bahagia bersama banyak kucing lain. (Adik mama ini punya lebih dari tujuh kucing di rumahnya!)

 

Hari berikutnya aku ditugaskan untuk membawa Caramel ke rumah beliau yang berjarak sekitar 40 menit dari rumahku. 40 menit yang menyiksa bagiku dan Caramel. Caramel berkali-kali mengeong ribut, suaranya ketika mengeong lucu sekali..tidak seperti suara kucing biasanya. Awalnya aku menikmati ‘bercakap-cakap’ dengannya tapi lalu ketika konsentrasiku mulai buyar, aku merasa bercakap-cakap bukan ide yang baik.

 

Untungnya kami sampai rumah tanteku dengan selamat. Semua bahagia! Caramel bahagia, tante bahagia, mama lega, aku dan adik-adik merasa inilah yang terbaik bagi Caramel.

 

*****

 

Beberapa menit setelah Caramel ditinggal di rumah barunya, aku pergi dengan Dito. Kami memutuskan untuk membuka jendela lebar-lebar supaya bulu Caramel keluar. Sepuluh menit kemudian aku mulai terserang batuk-batuk hebat.

 

Well, endingnya sudah mudah ditebak.. Selama seminggu sesudahnya aku diwajibkan bedrest. Suaraku hilang dan kondisiku menurun drastis. Suaraku baru benar-benar pulih setelah dua minggu dan kali ini Dito benar-benar membuatku berjanji:

 

“Tidak boleh lagi membawa binatang pulang ke rumah- betapapun lucunya binatang itu!”

 

“Bahkan kura-kura?”, tanyaku penuh harap- yang lalu dijawab dengan tatapan tajam.

 

Hahaha!

 

*****

Itulah kisah Caramel- yang mungkin akan menjadi binatang piaraan terakhirku. Berkali-kali binatang piaraan membuatku patah hati dan kali ini aku hanya tinggal punya Shadow. He should be enough now..

 

Well, Shadow.. Just the two of us now, Boy..



Blog EntryJangan Berhenti Tanpa Guna!Jun 10, '08 10:29 AM
for everyone

Tolong, apabila ada kecelakaan, kebakaran, orang pingsan, atau apapun- jangan berhenti untuk melihat bila kalian tidak bisa memberi bantuan!

 

Kesusahan itu bukan untuk dilihat. Jadi, tolong biarkan mereka yang mampu menolong saja yang melakukan tugasnya.

 

*****

 

Sore ini aku mengalami kemacetan di Jalan Kaliurang selama kurang-lebih 15 menit. Awalnya aku bertanya-tanya apa yang terjadi sampai aku melihat segerombolan orang di kanan jalan terlihat saling ngobrol secara antusias sambil melongokkan kepala ke arah kiri jalan. Well, it’s obvious!

 

Ada kecelakaan. Tapi bukan kecelakaannya yang menyebabkan kemacetan. Sekitar lima puluh orang di kanan kiri jalan yang sibuk merecoki kemacetan itu lah yang menyebabkan kemacetan.

 

Mungkin hanya sekitar 5 orang yang benar-benar berguna saat itu. Sisanya hanya merepotkan, membuat macet jalan dengan berhenti atas nama rasa penasaran, dan memuaskan rasa penasaran itu untuk nantinya diceritakan di rumah masing-masing.

 

Aku tidak tahu kecelakaan seperti apa tepatnya karena korbannya sudah dikelilingi oleh puluhan orang yang bersidekap sambil menontonnya. Saat itu juga aku memilih untuk lebih memperhatikan laju mobilku dibandingkan melihat apa yang terjadi.

 

Keputusan yang tepat karena di depanku ada seorang pengendara sepeda motor yang tidak memperhatikan jalannya dan sibuk menengok ke kiri untuk melihat apa yang terjadi. Tak lama kemudian, motor di depanku ini menabrak gerobak seorang penjual jagung rebus sampai bagian samping motornya pecah. Yeah, right.. so much for stupid curiosity..

 

Adikku yang duduk di sampingku berkata di tempat kejadian ada orang yang terlihat mengacungkan kepalan tangannya, seperti akan berkelahi. Lalu dia juga melihat mobil yang sepertinya sedan biru yang pecah kaca depannya. Sisanya entah. Orang-orang terlalu rapat mengerumuninya. “Ah, kalau kejadiannya penting, besok pasti keluar di koran”, katanya.

 

Setelah terbebas dari kemacetan, aku kembali bercakap-cakap dengan adikku mengenai kejadian itu. Betapa kasihannya sang korban kecelakaan.. sakit, tidak berdaya, dalam keadaan yang pastinya bukan keadaan terbaiknya, dan ditonton oleh puluhan orang asing dengan mata-mata yang haus cerita. Pasti menyebalkan sekali.

 

Tak lama kemudian, ada mobil polisi melaju kencang menuju tempat kejadian. Pastinya polisi itu akan terlambat karena jalan di depannya begitu macet. Parahnya, beberapa detik di belakang mobil polisi itu ada ambulance yang juga bergegas- menuju kemacetan.

 

Ah, semoga korban kecelakaan itu tidak terlambat mendapatkan bantuan.

 

*****

 

Kejadian seperti ini bukanlah yang pertama kali.

 

Seorang pengajar di kelasku pernah menceritakan perbedaan antara reporter dari Negara maju dan Negara berkembang. Katanya, pernah ada kejadian ketika para penolong terlambat menyelamatkan korban karena warga, reporter, dan para cameraman terlalu rapat mengelilingi korban tersebut demi mendapatkan kisahnya. Bedanya, cameraman dari Negara maju akan mengambil gambar dari jauh dan merekam kepanikan orang-orang di sekitarnya sehingga suasana ‘drama’ itu akan terekam dan korbannya tetap dapat terevakuasi dengan baik.

 

Kata orang, para penolong di Indonesia biasanya menjadi pahlawan kesiangan. Polisi, ambulance, dan pemadam kebakaran yang biasa terlambat datang.  Penolong kesiangan ini tidak sepenuhnya salah- bisa saja mereka terjebak kemacetan yang disebabkan oleh para reporter (asli ataupun reporter dadakan) yang mencari sedikit cerita untuk menambah warna hari mereka.

 

 

*****

 

Di lain sisi, aku beberapa kali diselamatkan oleh orang asing yang mau berhenti dan membantu.

 

Pada masa SMA dulu, aku sering sekali mengalami kecelakaan motor. Biasanya aku kagum dengan beberapa orang yang segera turun dari motornya dan membantuku. Seperlunya saja. Tidak ada orang yang lalu mengerumuniku dan bertanya-tanya apa yang terjadi.

 

Kecelakaan kecil seperti yang dulu sering aku alami biasanya memang tidak terlalu menarik perhatian. Kecelakaan kecil seperti itu juga tidak akan memerlukan bantuan polisi dan paramedis..

 

Ironisnya, hal ini seringkali terbalik sempurna. Kecelakaan besar è menarik perhatian è menyebabkan kerumunan massa è pertolongan terhambat.

 

Kasihan, kan, kalau rasa penasaran kita harus dibayar dengan penderitaan orang lain..

 

*****

 

Tips and Trick:

1. Apabila kita menjadi satu-satunya orang yang ada di lokasi kejadian atau penolong sementaranya terlihat kerepotan, segeralah membantu. Sebaliknya, apabila bantuan sementara sudah ada dan kehadiran kita di sana hanya akan merepotkan, lebih baik segera meninggalkan lokasi dan memberi jalan bagi mereka yang lebih berguna.

 

2. Apabila korban memerlukan bantuan medis, segera cari dokter atau orang yang memiliki kemampuan p3k di sekitar lokasi kejadian. Bila kita memiliki kemampuan p3k atau membawa perlengkapan p3k, jangan ragu untuk membantu. Bila tidak, segeralah menyingkir setelah mencari bantuan.

 

3. Korban yang pingsan atau sesak nafas tidak boleh dikelilingi banyak orang! Segeralah meminta orang-orang yang berkerumun untuk menyingkir dan memberikan sedikit udara bebas bagi korban.

 

4. Bila kerumunan orang mulai membuat macet jalan raya sementara kedatangan bantuan sedang ditunggu, cobalah meminta satpam/polisi/keamanan/preman setempat untuk menyingkirkan kerumunan massa yang memacetkan itu. Jangan pernah berhenti atas nama rasa penasaran bila tidak bisa membantu dan justru menambah macet!

 

5. Selalu beri jalan bagi ambulance. Kalau kita ada di baris paling depan di traffic light dan ada ambulance meraung-raung di belakang kita, segeralah menyingkir atau terobos lampu merahnya. Berusahalah untuk selalu mengalah pada ambulance atau pemadam kebakaran.

 

6. Don’t stare! It’s awkward and disturbing!

 

7. Bila kita tidak memiliki pengetahuan dasar menghadapi kecelakaan atau mudah panik, jangan memilih area emergency exit (di dalam pesawat atau bus). Biarkan mereka yang lebih berpengalaman untuk ada di sana sehingga ketika ada kecelakaan, mereka tahu pasti apa yang harus dilakukan.


8. (...) Bila ada tips lain, harap ditambahkan. Thanks.


*****

Some first-aid tips:

http://www.alfambulance.net/FIRSTAID.HTM

http://safe.gq.nu/p3k.html
http://sutanrajodilangik.wordpress.com/2007/11/23/pertolongan-pertama-pada-kecelakaan/



Blog EntryBumi adalah DunianyaMay 29, '08 10:28 AM
for everyone

Lukisan ini telah tergantung di kamarku selama empat tahun. Gambar, lebih tepatnya- karena menyebutkan kata ‘lukisan’ membuat ekspektasi kita menjadi lebih tinggi.  

 

*****

 

Sore ini untuk pertama kalinya aku mengamati gambar ini. Aku mulai bertanya-tanya, apa yang ada di benak pembuatnya saat itu?

 

Apakah manusia-manusia itu keluar dari tunas? Apa maksud dari akar itu? Lalu apakah yang muncul di atas tunas itu pohon? Atau awan yang juga lahir dari tunas? Atau buruknya, perlambangan bencana? Karena bentuknya sekilas seperti wedhus gembel dan seperti bom atom..

 

Apakah itu memang tunas atau bumi yang berakar- seperti planet-nya Little Prince yang tidak sengaja ditumbuhi pohon baobab? Pohon baobab di planet sekecil itu memang bisa menimbulkan masalah..

 

Lalu manusia-manusianya. Apakah itu anak-anak? Atau orang dewasa? Atau campuran? Apakah yang berambut berdiri itu pria dan yang berambut ondol-ondol itu wanitanya? Atau mereka androgini?

 

Kenapa hanya satu yang terlihat sedang tersenyum simpul sementara yang lain terlihat datar, atau menjulurkan lidahnya? Mungkin mereka menjulurkan lidahnya sembari tersenyum simpul sehingga logikanya menjadi berbalik: hanya ada satu orang yang sedang datar? Datar, karena kita tidak tahu apa dia sedih atau senang.

 

Orang bilang, senyum yang tampil di wajah gambaran kita mencerminkan perasaan kita saat itu.. lalu perasaan seperi apa yang dirasakan pembuat gambar ini? Apakah sedatar wajah-wajah di sini atau dialah satu-satunya yang berwajah bahagia dan terlihat bangga- seperti wajah di kanan atas?

 

Apakah burung berarti kebebasan dan rumah berarti kenyamanan? Kenapa burung dan rumah terpisah jauh? Apakah mereka yang ada di tunas maupun keluar dari tunas itu harus memilih akan kemana meloncat? Rumah? Atau burung?

 

Apakah itu tunas atau bumi? Atau itu lah dunianya? Kenapa dunianya hanya terdiri dari hitam putih dan abu-abu? Padahal seharusnya dunianya berwarna-warni.. dunia kanak-kanak yang berwarna-warni.

 

Kenapa hitam putih? Kenapa hitam putih? Pertanyaan ini lah yang dulu membuatku menginginkan gambar ini- gambar yang lalu mengikuti langkahku empat tahun berikutnya.

 

*****



Dari tulisan di baliknya, gambar ini dibuat oleh seorang anak bernama Chn Olivia B, saat itu dia masih duduk di bangku TK Adisucipto, 042 Lanud. Sebagian datanya terhapus, mungkin terkena tetesan air. Gambar seorang gadis kecil dengan dunia yang hitam putih ini menarikku.

 

Gambar ini adalah salah satu pemenang lomba gambar yang diadakan Yayasan Wana Mandhira suatu saat di tahun 2004. Seperi biasa, pasti temanya tidak jauh-jauh dari lingkungan hidup, bumi, atau apapun yang menyertainya. Mungkin beginilah gadis ini memaknai bumi: dunianya..

 

Dunia yang berisi pertumbuhan (akar, tunas, pohon); kebebasan (burung); kenyamanan (rumah), dan cinta kasih dari semua yang ada di sekitarnya (manusia). Mungkin.

 

Tapi siapa sih yang bisa menebak pikiran seorang anak TK yang memilih warna hitam, putih, dan abu-abu saja untuk gambarnya?

 

*****

 

Di penghujung tahun 2004, Yayasan Wana Mandhira mengadakan lelang gambar-gambar pemenang lombanya. Lelang itu bertujuan untuk mengumpulkan dana bagi membantu korban tsunami di Aceh.

 

Saat itu Bapak menawariku untuk memilih gambar yang aku suka. Aku langsung memilih gambar ini. Gambar yang paling menyolok di antara tumpukan gambar anak-anak yang penuh warna. Saat itu aku bertanya-tanya.. kenapa hitam putih?

 

Saat itu juga aku mulai tergabung dalam kegiatan LSM lingkungan hidup ini, Yayasan Wana Mandhira. Gambar ini menjadi prasastinya.

 

*****

 

Berikutnya, gambar ini terus tergantung di kamarku tanpa kuperhatikan sedikitpun- selama 1.5 tahun.

 

Lalu suatu hari, gambar ini beralih fungsi menjadi frame foto. Saat itu adalah hari pemakaman Bapak dan teman-temanku yang mendapatkan tugas untuk menempelkan foto Bapak yang akan ditaruh di depan peti mengambil gambar ini dari kamarku begitu saja- tanpa berpikir. Saat itu tidak ada seorang pun yang mampu berpikir..

 

Seusai acara pemakaman, seorang sahabat Bapak datang dan berkata “Pokoknya foto ini saya bawa”. Aku, masih tidak mampu berpikir dan begitu saja ikut mengangguk ketika mama mengiyakan permintaan itu.

 

Di rumah, mendadak aku menyadari bahwa gambar ini tidak ada di kamarku. Sekali ini aku mampu berpikir. Sekali ini aku memperhatikan gambar ini- hadiah dari Bapak suatu saat yang lalu. Semua hadiah dari Bapak saat itu menjadi begitu emosional, begitu berarti.

 

Seorang teman bilang gambar itu lah yang jadi frame foto peti Bapak. Lalu aku teringat sahabat Bapak tersebut dan harapanku untuk mendapatkan kembali gambarnya sudah pupus.

 

Sahabat Bapak tersebut kemudian menorehkan sebuah tanggal dan keterangan di bawah nama gadis cilik pembuat gambar: Meninggal 2-2-06. Satu lagi catatan dari kisah hidupku yang tertoreh di gambar ini.

 

*****

 

Dua tahun berlalu ketika seorang kolega lama Bapak datang. Dari perbincangan kami, aku tahu bahwa foto Bapak dipajang bekas ruang kerja beliau dulu. Katanya, teman-teman Bapak masih sering merindukannya.

 

Aku lalu teringat gambar dunia hitam putih si gadis kecil.. lalu aku mengatakan bahwa frame yang digunakan adalah gambar itu. Beberapa hari kemudian, foto Bapak, lengkap dengan gambar di belakangnya dikembalikan. Saat itu aku malu, tetapi bersyukur. Pasti aku akan mengganti foto Bapak untuk dipasang di bekas kantornya, janjiku.

 

Foto Bapak disimpan lagi oleh Mama. Gambar ini kembali menghiasi kamarku dengan memorabilia. Beberapa bekas selotip bolak-balik yang tadinya digunakan oleh teman-temanku masih belum bisa bersih total. Tapi tidak apa-apa.. sebuah cerita kembali tergores di sana.



*****

 

Sore tadi, beberapa bulan setelah gambar ini kembali ke kamarku, aku mulai bertanya-tanya.. memikirkan makna gambar ini. Tunasnya, manusia-manusianya, dan yang pasti tentang burung dan rumahnya.

 

Ah, lagi-lagi.. siapa sih yang bisa menebak jalan pikiran seorang anak TK yang memilih warna hitam, putih, dan kelabu saja untuk gambarnya? Dan kenapa aku tiba-tiba terganggu dengan makna gambar ini?


Hmm.. mungkin aku merindukan sebuah kedekatan yang pernah terjalin antara aku, gambar ini, dan pemberinya, suatu saat yang lalu.. mungkin saja..


*****


*quarter -life crisis: http://www.cds.caltech.edu/~shane/text/quarterlifecrisis.html and http://enda.goblogmedia.com/krisis-seperempat-baya.html





“Mbak, pasang lagunya Sinten Remen dong..buat pemanasan”, Pinta adikku dalam perjalanan untuk nonton Vertigong-nya Kua Etnika rabu malam lalu.

 

“Ini nanti Kua Etnika, lho.. jadi permainannya beda dengan Sinten Remen. Jangan kecewa, ya..”, Jawabku yang lalu memutar Jazz alih-alih Sinten Remen untuk pemanasan.  

 

*****

 

Adikku sangat menyukai Djaduk. Garis bawahi ‘sangat’ karena saking sukanya, adikku sampai berkali-kali berganti cita-cita. Dia ingin menjadi bagian dari proses seni mereka; jurnalis atau fotografer supaya bisa meliput mereka lebih dekat; lalu dia sempat ingin menjadi pejabat atau kurator seni (supaya bisa dapat undangan masuk di kursi emas itu di tiap saat pertunjukannya); dan yang pasti dia ingin masuk ISI serta pindah ke Bantul karena sepertinya pemain-pemain yang tampil bersama Djaduk di sana sini berasal dari ISI dan Bantul.

 

‘Sangat’ suka ini lalu seperti obsesi yang membangun untuk adikku. Dia yang matematikawan sejati mulai mengakrabkan diri dengan seni mulai dari teater sampai tari karawitan. Dia juga lalu menjadi aktif di majalah sekolah sebagai penulis.

 

Obsesi ini dimulai sejak aku iseng-iseng mengajaknya nonton Sarimin, monolognya Butet Kartaredjasa yang juga menampilkan Djaduk sebagai penata musiknya. Saat itu adikku terpaku pada Djaduk dan permainannya. Lalu dia mulai rajin mengajakku ke tiap pertunjukan yang mungkin ada Djaduknya. Mulai dari pementasan teater Gandrik di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja sampai Sidang Susila di TBY yang 18+ dan membuatnya merasa harus dandan demi terlihat 18+.

 

Begitu tahu ada Vertigong-nya Kua Etnika, dia langsung merasa harus nonton.

 

*****

 

Adikku, seperti mungkin beberapa orang yang ingin melihat Djaduk di pertunjukan ini, sempat merasa kecewa ketika mengetahui bahwa Djaduk hanya tampil dalam satu lagu. Kali ini bintangnya adalah Purwanto. Purwanto yang kerap kali membuat adikku iri karena melihatnya begitu dipercaya sebagai seolah-olah tangan kanan Djaduk. Tapi seperti setiap orang lainnya, kekecewaan ini tidak berlangsung lama. Purwanto membuktikan kehebatannya di Vertigong ini.

 

Lagu pertama yang menjadi pembuka berjudul ME-GRAND (Migren). Sesuai dengan namanya, lagu ini memang terasa begitu akbar, tapi tetap jazzy. Mereka tahu pasti kapan harus bermain pianissimo dan kapan fortissimo. Bayangkan keakbaran ME-GRAND (Migren) dengan membayangkan gabungan antara jazz, orkestra, dan gamelan. Keakbaran yang sesekali saling mengisi, saling melengkapi, ataupun saling membingkai. Lagu pembuka yang dengan sukses membingkai permainan seorang pemimpin pertunjukan: Purwanto.

 

Kehebatan Purwanto sebagai bintang di pertunjukan ini langsung terlihat dengan kepiawaiannya membentuk suasanya dengan bonang. Bonang yang biasanya dimainkan secara teratur dalam gamelan, kali ini dimaknai lain secara jazz. Konon katanya bonang di sini berperan sebagai vibraphone. Apapun itu, it takes my breath away!

 

Berikutnya, Purwanto menyapa kami dengan begitu rendah hati dan membuatku malu dengan meminta maaf karena bukan Djaduk yang memimpin pertunjukan ini. Sepertinya dia tahu bahwa beberapa orang mengharapkan Djaduk dengan nama besarnya itu lah yang memimpin. Beberapa orang seperti aku dan adikku memang sedikit tertohok oleh kerendahan hatinya. Salam pembuka Purwanto itulah yang membuat semua mata lalu memandang kepadanya.

 

*****

 

Lagu ke-dua berjudul Gumarenggeng dan hanya dimainkan oleh tiga orang dengan seperangkat Gender. Gender yang biasanya dipukul dengan lembut dan menghasilkan suara yang sangat menenangkan, kali ini dimainkan dengan berbagai improvisasi.

 

Sesekali gender dimainkan keras dan tegas seperti memainkan Saron. Sesekali gender tetap menjadi gender dengan kelembutan yang mengingatkanku akan bunyi piano dan membawaku terbang sejenak ke pertunjukan musik klasik. Lalu bunyi-bunyian yang sesekali dimainkan dari pukulan atau sapuan di tabung-tabung suara gender kembali membawaku ke bumi.

 

Mereka tidak berhenti dengan mengeksplorasi permainan di atas plat-plat gender, tapi juga memanfaatkan seluruh bagian dari alat musik itu untuk menjadi musik baru yang unik. Hasilnya, klangenan yang jazzy tapi tetap klasik.

 

*****

 

Berikutnya, aku mulai kehilangan hitunganku. Entah lagu mana yang menjadi lagu ke-tiga dan seterusnya. Aku hanya ingat sebuah lagu yang merintih-rintih. Rintihan yang dimainkan dengan seruling oleh I Nyoman Cau Arsana. Entah bagaimana dia bisa meniup seruling seindah itu dengan satu nafas.. Amazing!

 

Judulnya Terarus. Di lagu ini aku kagum dengan bagaimana setiap pemain membingkai permainan yang lain, satu sama lain, begitu seterusnya. Masing-masing tahu kapan mereka harus mundur teratur dan membiarkan temannya menjadi pusat perhatian serta kapan mereka harus mulai menonjolkan diri. Lalu masing-masing dari mereka mulai terlihat kehebatannya. Semua memang begitu menguasai tiap alat musik yang mereka mainkan, dan yang pasti mereka menikmatinya. Mereka semua bermain dengan tetap tersenyum.

 

Kali ini yang paling menonjol adalah permainan seruling dan gitar. Gitar dimainkan oleh Moch. Zulhamdani dengan santai, playful, humble, dan tidak sekalipun menanggalkan senyumnya. Suka sekali!

 

*****

 

Lalu, mereka menyajikan nuansa musik klasik dengan mengundang Christopher Abimanyu Sastrodihardjo dalam lagu Tumungkul. Beliau yang seorang tenora kali ini diserahi lagu berbahasa Jawa kental. Alat musik yang dimainkan sepenuhnya adalah gamelan- gender dan bonang.

 

Kali ini musiknya begitu samar, hanya berfungsi sebagai bingkai bagi suara sang Christopher Abimanyu. Musik indah yang samar dan begitu lembut, lebih lembut dari permainan piano. Mungkin kelembutan itu hadir karena memang disengaja atau mungkin karena suara Christopher yang begitu kuat, begitu mendominasi, begitu indah. Terkadang, dominasi suara ini membuat alunan lembut gamelan tidak terdengar. Semua terpusat pada Christopher Abimanyu. Dan beliau memang layak mendapatkan perhatian penuh itu.

 

*****

 

Segera setelah itu, Purwanto berdiri dan membuat suara-suara seruan yang lalu ditanggapi oleh personel lain dari Kua Etnika yang satu per satu naik ke atas panggung dan ber-accapela dalam lagu Aubabauw.

 

Lagu ini dimainkan dengan kocak oleh seluruh personel tanpa menggunakan alat musik apapun. Mereka lah musiknya. Suara mereka, badan mereka, semua yang ada di sekitar mereka lah alat musiknya. Mereka membuat efek suara bergetar dengan saling memukuli punggung masing-masing dengan berjejeran di panggung, berceloteh, saling menimpali celotehan satu sama lain, dan akhirnya gaya sampakan khas mereka muncul menambah panas suasana. Jazz Jawa dimainkan dengan accapela yang menyenangkan, menghibur, teaterikal, playful, dan ramai. Asyik sekali!

 

*****

 

Berikutnya, sebuah gambang diangkat masuk. Satu gambang yang lalu dimainkan oleh enam orang dengan pukulan gaya jazz dalam Gambang Carawak.

 

Gambang itu alat musik yang pemalu”, kata Purwanto.

 

Tapi dalam Gambang Carawak, gambang lah bintangnya. Satu alat musik dari kayu yang memiliki bunyi sesejuk air sungai ini diesplorasi sedemikian rupa dengan pukulan yang bersahut-sahutan. Pukulan yang awalnya serampangan, lalu mulai membentuk harmoni yang indah, ramai, tapi tetap menyejukkan- khas gambang.

 

Semua bagian dari badan gambang dijadikan sumber bunyi. Atas, bawah, samping, dengan bagian depan pemukul hingga ujung belakang pemukul. Permainan bersama-sama ini lalu ditutup dengan setiap pemain yang menjatuhkan alat pemukulnya, dan tetap saja suara yang dihasilkan tetap sejuk, malu-malu, dan indah.

 

Para pelaku belakang panggung tidak mau kalah dengan mereka yang ada di depan panggung. Untuk mengangkut gambang kembali ke belakang, mereka membawa kain dan sebatang pohon kecil berbalut kain. Ternyata mereka lalu melakukan aksi teaterikal dengan mengangkut gambang bersama-sama berpayung daun-daun di pohon berbalut kain, seakan mereka mengangkut keranda mayat. Benar-benar menghibur..

 

*****

 

Berikutnya, muncullah Djaduk yang ditunggu-tunggu tapi sempat terlupakan karena keasyikan musik-musik sebelumnya. Djaduk bersama-sama membawakan lagu berjudul Sekedap.

 

Djaduk bereksplorasi dengan saxophone. Katanya, bukan jazz kalau tidak memakai Sax. Tapi lalu dia membongkar alat musik itu, dan hanya mengambil inti di dalamnya. Inti dari Sax itu lah yang dimainkannya. Hebat!

 

Bukan Djaduk kalau tidak dominan dan menonjol. Semua mata langsung tertuju padanya. Ketika kemudian dia membiarkan para pemain lain mengambil alih fokus permainan, tiba-tiba ia mencurinya lagi dengan mengeluarkan gumaman-gumaman seperti suara bass, lalu menyusul suara-suara musik jazz yang dengan ajaib keluar dari mulutnya. Mendadak aku teringat Ella Fitzgerald dalam lagu How High the Moon. Aku terpaku. Semua terpaku.

 

Lalu keluar suara wanita yang terdengar begitu seksi, begitu elegan, begitu rawan. Dan di nomor ini lah Trie Utami yang disebut sebagai “Garwone wong akeh” oleh Djaduk muncul. Trie Utami bernyanyi dengan centil dan lagi-lagi, playful. Sesekali dia menjadi jazz, sesekali ia sinden.. itu lah Kua Etnika! Jazz yang Jawa dan etnik.

 

Celotehan-celotehan muncul dari sana-sini. Aksi teaterikal juga sesekali terselip. Gaa sampakan muncul lagi dan panggung menjadi begitu ramai. Terkadang celotehan dan timpalan itu melalui kata-kata, kadang melalui alat musik- tapi semua terangkum dengan musikal. Sesekali elegan, sesekali norak. Sesekali Trie Utami, sesekali Djaduk, sesekali yang lain juga turut serta.

 

Djaduk kembali mengambil Saxophone-nya dengan penuh gaya, tapi lalu suara yang muncul ternyata berbeda. Sedikit aneh. Membuat kita ingin tertawa keras karena suaranya lalu menjadi seperti seorang yang meniup Sax secara asal-asalan. Dia melepas Sax, tapi musik tetap bergulir. Ternyata bukan Sax yang selama ini ditiupnya melainkan kertas yang digulung-gulung dan lalu persepsi selama ini langsung berubah. Kertas lah yang dia mainkan secara jazz dan musik lah yang tercipta. Benar-benar hebat!

 

*****

 

Berikutnya, Djaduk diusir (literally) mundur oleh Trie Utami. Kali ini Trie Utami lah yang aku pikir akan ‘dibingkai’ oleh permainan yang lain. Ternyata tidak. Dalam lagu Konstan yang dimainkan secara 7 per 8, semua lagi-lagi saling membingkai permainan satu sama lain. Bingkai yang seakan menegaskan bahwa semua mampu, semua hebat, dan masing-masing unik. Gitar, bass, vokal, keyboard, drum, berpadu dengan gender dan bonang. Harmonis dan hidup.

 

Lalu lagu ini berhenti dan dilanjutkan dengan tepukan tangan bersahut-sahutan dari semua personel yang mulai meninggalkan alat musiknya. Semua alat musik digantikan oleh tepukan tangan, tepukan kaki, tepukan badan, dan hentakan kaki dalam lagu Clap Tone.

 

Lagi-lagi mereka membuktikan bahwa tidak perlu alat musik untuk menciptakan musik. Purwanto bahkan mengajak semua penonton untuk ikut bermain musik dengan bertepuk tangan. Meriah sekali.

 

*****

 

“Siapa lagi yang bisa bermain Jazz dengan gamelan seperti ini? Mau cari di New York sana juga tidak akan mendapatkan Jazz yang seperti ini. Tepuk tangan bagi Purwanto!”, puji Trie Utami.

 

Ya, dan betapa Kua Etnika masih mempertahankan rasa lokal-nya yang kental sementara memainkan musik yang global itu lah yang membuatnya diakui di kancah musik internasional. Sesuatu yang mungkin terlupakan oleh beberapa artis kita yang katanya ingin go international tapi tertunda terus..

 

*****

 

Konser musik ini lalu ditutup dengan lagu terakhir yang tidak kalah akbar dengan lagu pembukanya. Lagu ini berjudul sama dengan konsernya, Vertigong.

 

Kata orang Jawa, sesuatu yang bagus dan dikeluarkan di paling akhir itu lah ‘Gong’-nya. Dan bagi konser kali ini, inilah Vertigong-nya. Sebuah komposisi musik yang menonjolkan setiap pemainnya sebagaimana seharusnya sebuah gong, dan menutup konser ini dengan memuaskan.

 

*****

 

Di luar sana, ternyata beberapa orang terpaksa melihat pertunjukan ini melalui layar LCD. Konon katanya ini adalah permintaan mereka yang kehabisan tiket dan telat membeli. Betapa beruntungnya kami yang mendapatkan tempat yang menyenangkan.

 

“So, sekarang ngefansnya sama siapa niy?”, tanyaku kepada adikku seusai pertunjukan.

 

Adikku yang masih tersenyum-senyum antara senewen, bahagia, puas, dan ‘hore’, itu segera menjawab dengan mantab: “Kua Etnika!”.

 

Nah..sekarang dia mendadak menambah jenis musiknya menjadi Jazz sembari bermimpi andaikata suatu hari dia mampu bergabung dengan pemusik-pemusik hebat yang begitu menguasai alat-alat musiknya itu.. Kapan lagi ya Padepokan Seni Bagong Kussudiardja menggelar pertunjukan? Siapa tahu bisa membuat adikku berubah minat lagi.. hihihi..




I was ready to greet "Hello,Summer Day!" when a crisp peppermint wind greet me on the first place! Brr..

It looks like a summer day outside but it feels like winter.

Brightly happy cool sunny day!

I love it!!


******

Kata seorang teman, matahari sedang berada jauh dari khatulistiwa. Karena itu, saat ini bisa dikatakan sebagai musim dingin-nya daerah tropis. Panas yang dingin.

Di luar sana matahari bersinar cerah ceria, membuat hati hangat dan hasrat piknik-dolan-jalanjalan-bersantai meningkat drastis!

Lalu, ketika aku membuka pintu dan jendela kamarku, angin dingin bertiup masuk dan membuat semangat itu menyurut.. and here I am.. writing on my blog instead of calling somebody to accompany me having another picnic!

Tapi, sore indah dengan matahari yang semakin jauh namun tetap bersinar terang itu selalu membuatku tergoda. Godaan yang berhari-hari ini aku tanggapi dengan duduk-duduk sore di coffee shop dengan ice cream chocolate cake, piknik di atas bukit, dan jalan-jalan santai.

Malamnya, di antara dingin yang sangat menggigit, bintang-bintang bertebaran menghasi langit dan lagi-lagi membuat hati begitu ceria.

Oh, how I love tropical winter!



Blog EntryAnother Picnic: Sea, Sand, and RainMay 2, '08 11:19 PM
for everyone

 

Masih karena KKN.

 

Tepat sehari sebelum berangkat, akhirnya aku mendapatkan lautku. Awalnya kami tidak berencana untuk pergi ke laut. Rencananya cuma mau jalan-jalan jauh- entah ke mana Tea membawa.

 

Kami sampai di Gunung Kidul, berputar sebentar di lapangan terbang yang ditinggalkan, lalu mencoba ke Wanagama. Kami batal piknik di sana karena seingatku, seorang teman pernah berkata kami harus membayar untuk masuk. Saat itu kami sedang nol rupiah.

 

“Coba ke pantai yang waktu itu aja, yuk”, ajak Dito.

 

Hmm.. pantai Sepanjang? Katanya cantik.

 

Ayo!

 

Yakin? Ini Jalannya??

Pantai Sepanjang ada di antara pantai Kukup dan Krakal. Jalannya sempit dan jelek. Berkali-kali Dito meragukan kemampuan Tea melewati jalan itu. Tapi garis laut yang terlihat seolah begitu tinggi membuat semangat kami melambung.