
“Mbak, pasang lagunya Sinten Remen dong..buat pemanasan”, Pinta adikku dalam perjalanan untuk nonton Vertigong-nya Kua Etnika rabu malam lalu.
“Ini nanti Kua Etnika, lho.. jadi permainannya beda dengan Sinten Remen. Jangan kecewa, ya..”, Jawabku yang lalu memutar Jazz alih-alih Sinten Remen untuk pemanasan.
*****
Adikku sangat menyukai Djaduk. Garis bawahi ‘sangat’ karena saking sukanya, adikku sampai berkali-kali berganti cita-cita. Dia ingin menjadi bagian dari proses seni mereka; jurnalis atau fotografer supaya bisa meliput mereka lebih dekat; lalu dia sempat ingin menjadi pejabat atau kurator seni (supaya bisa dapat undangan masuk di kursi emas itu di tiap saat pertunjukannya); dan yang pasti dia ingin masuk ISI serta pindah ke Bantul karena sepertinya pemain-pemain yang tampil bersama Djaduk di sana sini berasal dari ISI dan Bantul.
‘Sangat’ suka ini lalu seperti obsesi yang membangun untuk adikku. Dia yang matematikawan sejati mulai mengakrabkan diri dengan seni mulai dari teater sampai tari karawitan. Dia juga lalu menjadi aktif di majalah sekolah sebagai penulis.
Obsesi ini dimulai sejak aku iseng-iseng mengajaknya nonton Sarimin, monolognya Butet Kartaredjasa yang juga menampilkan Djaduk sebagai penata musiknya. Saat itu adikku terpaku pada Djaduk dan permainannya. Lalu dia mulai rajin mengajakku ke tiap pertunjukan yang mungkin ada Djaduknya. Mulai dari pementasan teater Gandrik di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja sampai Sidang Susila di TBY yang 18+ dan membuatnya merasa harus dandan demi terlihat 18+.
Begitu tahu ada Vertigong-nya Kua Etnika, dia langsung merasa harus nonton.
*****
Adikku, seperti mungkin beberapa orang yang ingin melihat Djaduk di pertunjukan ini, sempat merasa kecewa ketika mengetahui bahwa Djaduk hanya tampil dalam satu lagu. Kali ini bintangnya adalah Purwanto. Purwanto yang kerap kali membuat adikku iri karena melihatnya begitu dipercaya sebagai seolah-olah tangan kanan Djaduk. Tapi seperti setiap orang lainnya, kekecewaan ini tidak berlangsung lama. Purwanto membuktikan kehebatannya di Vertigong ini.
Lagu pertama yang menjadi pembuka berjudul ME-GRAND (Migren). Sesuai dengan namanya, lagu ini memang terasa begitu akbar, tapi tetap jazzy. Mereka tahu pasti kapan harus bermain pianissimo dan kapan fortissimo. Bayangkan keakbaran ME-GRAND (Migren) dengan membayangkan gabungan antara jazz, orkestra, dan gamelan. Keakbaran yang sesekali saling mengisi, saling melengkapi, ataupun saling membingkai. Lagu pembuka yang dengan sukses membingkai permainan seorang pemimpin pertunjukan: Purwanto.
Kehebatan Purwanto sebagai bintang di pertunjukan ini langsung terlihat dengan kepiawaiannya membentuk suasanya dengan bonang. Bonang yang biasanya dimainkan secara teratur dalam gamelan, kali ini dimaknai lain secara jazz. Konon katanya bonang di sini berperan sebagai vibraphone. Apapun itu, it takes my breath away!
Berikutnya, Purwanto menyapa kami dengan begitu rendah hati dan membuatku malu dengan meminta maaf karena bukan Djaduk yang memimpin pertunjukan ini. Sepertinya dia tahu bahwa beberapa orang mengharapkan Djaduk dengan nama besarnya itu lah yang memimpin. Beberapa orang seperti aku dan adikku memang sedikit tertohok oleh kerendahan hatinya. Salam pembuka Purwanto itulah yang membuat semua mata lalu memandang kepadanya.
*****
Lagu ke-dua berjudul Gumarenggeng dan hanya dimainkan oleh tiga orang dengan seperangkat Gender. Gender yang biasanya dipukul dengan lembut dan menghasilkan suara yang sangat menenangkan, kali ini dimainkan dengan berbagai improvisasi.
Sesekali gender dimainkan keras dan tegas seperti memainkan Saron. Sesekali gender tetap menjadi gender dengan kelembutan yang mengingatkanku akan bunyi piano dan membawaku terbang sejenak ke pertunjukan musik klasik. Lalu bunyi-bunyian yang sesekali dimainkan dari pukulan atau sapuan di tabung-tabung suara gender kembali membawaku ke bumi.
Mereka tidak berhenti dengan mengeksplorasi permainan di atas plat-plat gender, tapi juga memanfaatkan seluruh bagian dari alat musik itu untuk menjadi musik baru yang unik. Hasilnya, klangenan yang jazzy tapi tetap klasik.
*****
Berikutnya, aku mulai kehilangan hitunganku. Entah lagu mana yang menjadi lagu ke-tiga dan seterusnya. Aku hanya ingat sebuah lagu yang merintih-rintih. Rintihan yang dimainkan dengan seruling oleh I Nyoman Cau Arsana. Entah bagaimana dia bisa meniup seruling seindah itu dengan satu nafas.. Amazing!
Judulnya Terarus. Di lagu ini aku kagum dengan bagaimana setiap pemain membingkai permainan yang lain, satu sama lain, begitu seterusnya. Masing-masing tahu kapan mereka harus mundur teratur dan membiarkan temannya menjadi pusat perhatian serta kapan mereka harus mulai menonjolkan diri. Lalu masing-masing dari mereka mulai terlihat kehebatannya. Semua memang begitu menguasai tiap alat musik yang mereka mainkan, dan yang pasti mereka menikmatinya. Mereka semua bermain dengan tetap tersenyum.
Kali ini yang paling menonjol adalah permainan seruling dan gitar. Gitar dimainkan oleh Moch. Zulhamdani dengan santai, playful, humble, dan tidak sekalipun menanggalkan senyumnya. Suka sekali!
*****
Lalu, mereka menyajikan nuansa musik klasik dengan mengundang Christopher Abimanyu Sastrodihardjo dalam lagu Tumungkul. Beliau yang seorang tenora kali ini diserahi lagu berbahasa Jawa kental. Alat musik yang dimainkan sepenuhnya adalah gamelan- gender dan bonang.
Kali ini musiknya begitu samar, hanya berfungsi sebagai bingkai bagi suara sang Christopher Abimanyu. Musik indah yang samar dan begitu lembut, lebih lembut dari permainan piano. Mungkin kelembutan itu hadir karena memang disengaja atau mungkin karena suara Christopher yang begitu kuat, begitu mendominasi, begitu indah. Terkadang, dominasi suara ini membuat alunan lembut gamelan tidak terdengar. Semua terpusat pada Christopher Abimanyu. Dan beliau memang layak mendapatkan perhatian penuh itu.
*****
Segera setelah itu, Purwanto berdiri dan membuat suara-suara seruan yang lalu ditanggapi oleh personel lain dari Kua Etnika yang satu per satu naik ke atas panggung dan ber-accapela dalam lagu Aubabauw.
Lagu ini dimainkan dengan kocak oleh seluruh personel tanpa menggunakan alat musik apapun. Mereka lah musiknya. Suara mereka, badan mereka, semua yang ada di sekitar mereka lah alat musiknya. Mereka membuat efek suara bergetar dengan saling memukuli punggung masing-masing dengan berjejeran di panggung, berceloteh, saling menimpali celotehan satu sama lain, dan akhirnya gaya sampakan khas mereka muncul menambah panas suasana. Jazz Jawa dimainkan dengan accapela yang menyenangkan, menghibur, teaterikal, playful, dan ramai. Asyik sekali!
*****
Berikutnya, sebuah gambang diangkat masuk. Satu gambang yang lalu dimainkan oleh enam orang dengan pukulan gaya jazz dalam Gambang Carawak.
“Gambang itu alat musik yang pemalu”, kata Purwanto.
Tapi dalam Gambang Carawak, gambang lah bintangnya. Satu alat musik dari kayu yang memiliki bunyi sesejuk air sungai ini diesplorasi sedemikian rupa dengan pukulan yang bersahut-sahutan. Pukulan yang awalnya serampangan, lalu mulai membentuk harmoni yang indah, ramai, tapi tetap menyejukkan- khas gambang.
Semua bagian dari badan gambang dijadikan sumber bunyi. Atas, bawah, samping, dengan bagian depan pemukul hingga ujung belakang pemukul. Permainan bersama-sama ini lalu ditutup dengan setiap pemain yang menjatuhkan alat pemukulnya, dan tetap saja suara yang dihasilkan tetap sejuk, malu-malu, dan indah.
Para pelaku belakang panggung tidak mau kalah dengan mereka yang ada di depan panggung. Untuk mengangkut gambang kembali ke belakang, mereka membawa kain dan sebatang pohon kecil berbalut kain. Ternyata mereka lalu melakukan aksi teaterikal dengan mengangkut gambang bersama-sama berpayung daun-daun di pohon berbalut kain, seakan mereka mengangkut keranda mayat. Benar-benar menghibur..
*****
Berikutnya, muncullah Djaduk yang ditunggu-tunggu tapi sempat terlupakan karena keasyikan musik-musik sebelumnya. Djaduk bersama-sama membawakan lagu berjudul Sekedap.
Djaduk bereksplorasi dengan saxophone. Katanya, bukan jazz kalau tidak memakai Sax. Tapi lalu dia membongkar alat musik itu, dan hanya mengambil inti di dalamnya. Inti dari Sax itu lah yang dimainkannya. Hebat!
Bukan Djaduk kalau tidak dominan dan menonjol. Semua mata langsung tertuju padanya. Ketika kemudian dia membiarkan para pemain lain mengambil alih fokus permainan, tiba-tiba ia mencurinya lagi dengan mengeluarkan gumaman-gumaman seperti suara bass, lalu menyusul suara-suara musik jazz yang dengan ajaib keluar dari mulutnya. Mendadak aku teringat Ella Fitzgerald dalam lagu How High the Moon. Aku terpaku. Semua terpaku.
Lalu keluar suara wanita yang terdengar begitu seksi, begitu elegan, begitu rawan. Dan di nomor ini lah Trie Utami yang disebut sebagai “Garwone wong akeh” oleh Djaduk muncul. Trie Utami bernyanyi dengan centil dan lagi-lagi, playful. Sesekali dia menjadi jazz, sesekali ia sinden.. itu lah Kua Etnika! Jazz yang Jawa dan etnik.
Celotehan-celotehan muncul dari sana-sini. Aksi teaterikal juga sesekali terselip. Gaa sampakan muncul lagi dan panggung menjadi begitu ramai. Terkadang celotehan dan timpalan itu melalui kata-kata, kadang melalui alat musik- tapi semua terangkum dengan musikal. Sesekali elegan, sesekali norak. Sesekali Trie Utami, sesekali Djaduk, sesekali yang lain juga turut serta.
Djaduk kembali mengambil Saxophone-nya dengan penuh gaya, tapi lalu suara yang muncul ternyata berbeda. Sedikit aneh. Membuat kita ingin tertawa keras karena suaranya lalu menjadi seperti seorang yang meniup Sax secara asal-asalan. Dia melepas Sax, tapi musik tetap bergulir. Ternyata bukan Sax yang selama ini ditiupnya melainkan kertas yang digulung-gulung dan lalu persepsi selama ini langsung berubah. Kertas lah yang dia mainkan secara jazz dan musik lah yang tercipta. Benar-benar hebat!
*****
Berikutnya, Djaduk diusir (literally) mundur oleh Trie Utami. Kali ini Trie Utami lah yang aku pikir akan ‘dibingkai’ oleh permainan yang lain. Ternyata tidak. Dalam lagu Konstan yang dimainkan secara 7 per 8, semua lagi-lagi saling membingkai permainan satu sama lain. Bingkai yang seakan menegaskan bahwa semua mampu, semua hebat, dan masing-masing unik. Gitar, bass, vokal, keyboard, drum, berpadu dengan gender dan bonang. Harmonis dan hidup.
Lalu lagu ini berhenti dan dilanjutkan dengan tepukan tangan bersahut-sahutan dari semua personel yang mulai meninggalkan alat musiknya. Semua alat musik digantikan oleh tepukan tangan, tepukan kaki, tepukan badan, dan hentakan kaki dalam lagu Clap Tone.
Lagi-lagi mereka membuktikan bahwa tidak perlu alat musik untuk menciptakan musik. Purwanto bahkan mengajak semua penonton untuk ikut bermain musik dengan bertepuk tangan. Meriah sekali.
*****
“Siapa lagi yang bisa bermain Jazz dengan gamelan seperti ini? Mau cari di New York sana juga tidak akan mendapatkan Jazz yang seperti ini. Tepuk tangan bagi Purwanto!”, puji Trie Utami.
Ya, dan betapa Kua Etnika masih mempertahankan rasa lokal-nya yang kental sementara memainkan musik yang global itu lah yang membuatnya diakui di kancah musik internasional. Sesuatu yang mungkin terlupakan oleh beberapa artis kita yang katanya ingin go international tapi tertunda terus..
*****
Konser musik ini lalu ditutup dengan lagu terakhir yang tidak kalah akbar dengan lagu pembukanya. Lagu ini berjudul sama dengan konsernya, Vertigong.
Kata orang Jawa, sesuatu yang bagus dan dikeluarkan di paling akhir itu lah ‘Gong’-nya. Dan bagi konser kali ini, inilah Vertigong-nya. Sebuah komposisi musik yang menonjolkan setiap pemainnya sebagaimana seharusnya sebuah gong, dan menutup konser ini dengan memuaskan.
*****
Di luar sana, ternyata beberapa orang terpaksa melihat pertunjukan ini melalui layar LCD. Konon katanya ini adalah permintaan mereka yang kehabisan tiket dan telat membeli. Betapa beruntungnya kami yang mendapatkan tempat yang menyenangkan.
“So, sekarang ngefansnya sama siapa niy?”, tanyaku kepada adikku seusai pertunjukan.
Adikku yang masih tersenyum-senyum antara senewen, bahagia, puas, dan ‘hore’, itu segera menjawab dengan mantab: “Kua Etnika!”.
Nah..sekarang dia mendadak menambah jenis musiknya menjadi Jazz sembari bermimpi andaikata suatu hari dia mampu bergabung dengan pemusik-pemusik hebat yang begitu menguasai alat-alat musiknya itu.. Kapan lagi ya Padepokan Seni Bagong Kussudiardja menggelar pertunjukan? Siapa tahu bisa membuat adikku berubah minat lagi.. hihihi..